Pentau

Balikpapan sudah berdiri lama, tapi banyak ceritanya yang justru makin susah ditemukan. Sejarah kampung-kampung tua, sosok-sosok warga yang menghidupi kota ini dari hari ke hari, sampai kondisi wilayah yang berubah dari waktu ke waktu — semuanya ada, cuma tersebar di sana-sini dan nggak jarang bikin orang menyerah duluan sebelum sempat ketemu.

Dari kegelisahan itulah Pentau lahir. Bukan buat jadi ensiklopedia yang kaku dan berjarak, tapi tempat orang Balikpapan — dan siapa pun yang penasaran — bisa menemukan cerita kotanya sendiri dengan lebih mudah. Mulai dari sejarah kawasan, profil tokoh dan pelaku usaha lokal, sampai potret kehidupan warga masa kini, semuanya dikumpulkan di satu tempat. Tinggal buka, cari, baca — tanpa perlu berputar-putar dulu ke berbagai situs atau menunggu ada yang kebetulan mengunggahnya.

Karena mengenal kota tempat kita tinggal itu seharusnya nggak susah.

Profil Tokoh Terbaru

Tentang Pentau

Pentau lahir dari kegelisahan sederhana: kenapa mencari tahu sejarah kota sendiri kok susahnya minta ampun? Balikpapan punya banyak cerita, dari asal-usul kampung, jejak peninggalan masa lalu, sampai bagaimana kondisi wilayahnya berubah dari tahun ke tahun — tapi informasi itu tersebar di berbagai tempat, sebagian cuma ada di ingatan orang-orang tua, dan sebagian lagi nyaris hilang begitu saja karena nggak pernah didokumentasikan dengan baik.

Kami percaya, warga Balikpapan berhak tahu dan dekat dengan sejarah kotanya sendiri tanpa harus riset ke sana kemari atau bergantung pada informasi yang tercecer. Karena itu, Pentau dibangun sebagai satu tempat yang mengumpulkan cerita cerita tersebut, mulai dari sejarah kawasan, tokoh dan peristiwa penting, sampai gambaran kondisi Balikpapan masa kini supaya siapa pun, dari pelajar sampai warga biasa, bisa dengan mudah mengenal kotanya lebih dalam.

Project ini juga jadi ruang buat masyarakat yang penasaran atau ingin berkontribusi cerita, karena kami percaya sejarah sebuah kota nggak cuma milik segelintir orang tapi milik semua yang pernah dan sedang tinggal di dalamnya.

Pentau bukan sekadar arsip. Ini upaya kecil supaya Balikpapan terus dikenal, diingat, dan dihargai oleh generasi yang akan datang.

Kontak Pentau

Instagram @pentau.legacy
YouTube @pentaulegacy
Nomor WhatsApp +62 812-5559-3826

Bu Sundari

Nama
Ibu Sundari
Profesi
Guru & Pengusaha Repack Snack
Lokasi
Balikpapan
Bidang Usaha
Pengemasan ulang jajanan/snack untuk didistribusikan ke pedagang kecil

Bu Sundari menjalankan usaha pengemasan ulang jajanan yang menjadi bagian penting dari rantai distribusi kecil di Balikpapan. Melalui usahanya, jajanan dari produsen bisa sampai ke tangan pedagang-pedagang kecil dengan kemasan dan takaran yang lebih terjangkau bagi konsumen sehari-hari.

Baca cerita lengkap wawancaranya →

Menakar Rezeki dari Bungkus Snack: Cerita Warga di Balik Distribusi Jajanan Balikpapan

Profil Tokoh
Bagian dari seri wawancara Pentau Project mengenai pelaku usaha mikro di balik rantai distribusi jajanan Kota Balikpapan.

Rantai Panjang di Balik Sebungkus Snack

Suara renyahnya bungkus plastik yang dibuka di sela jam istirahat sekolah seolah jadi pemandangan sehari-hari di sudut Balikpapan. Dari deretan etalase Koperasi SMKN 6 Balikpapan, tangan-tangan murid dengan lincah memilih snack favorit seharga lima ribuan, membayar ke penjual, lalu pergi begitu saja sambil menikmati kemasannya.

Kelihatannya memang sesederhana transaksi cepat di tengah ramainya suasana sekolah. Tapi, apakah kita pernah berpikir sejenak tentang bagaimana sekantong jajanan itu bisa melintasi jalanan kota hingga akhirnya mampir di koperasi sekolah? Sebelum tiba di tangan para siswa, ada rantai distribusi yang cukup panjang — berawal dari distributor besar, melintasi agen-agen lokal, hingga masuk ke dapur pengemasan ulang (repack) milik warga, sebelum akhirnya siap dijajakan.

Salah satu figur di balik keberadaan snack-snack itu adalah Bu Sundari, seorang pengusaha pengemasan kembali tingkat rumah tangga di Balikpapan. Bisnis yang telah beliau tekuni selama 15 tahun ini sejatinya dirintis tanpa sengaja; mulanya Bu Sundari hanya membungkus kudapan untuk kebutuhan keluarganya sendiri. Namun, lantaran cita rasa dan takarannya digemari warga sekitar, beliau memantapkan diri untuk membuat dalam jumlah lebih besar. Setiap minggunya, Bu Sundari mengumpulkan suplai camilan partai besar dari distributor grosir. Dari dapur rumahnya yang sederhana inilah, jajanan berukuran besar tersebut disulap menjadi kemasan hemat yang tak hanya mampir di koperasi sekolah, tapi juga tersebar di berbagai warung warga.

Proses Kerja, Ketelitian, dan Kapasitas Produksi Harian

Masuk ke area dapur rumahnya, proses pengemasan ulang jajanan ini dilakukan secara manual dengan penuh ketelitian. Alurnya dimulai dari membuka pasokan grosir berukuran besar, menimbang jajanan agar takarannya pas, hingga menyusunnya dengan rapi ke etalase.

Meski dikerjakan dengan peralatan sederhana, ritme kerja di dapur ini terbilang cukup produktif. Dalam seminggu, Bu Sundari mampu mengemas 20 hingga 50 bungkus jajanan siap edar. Ketelatenan inilah yang menjaga kualitas jajanan tetap renyah dan bersih sebelum akhirnya sampai ke tangan konsumen.

Tantangan Bu Sundari

Menjalankan usaha pengemasan ulang tentu tak lepas dari dinamika ekonomi. Bu Sundari harus memutar otak menghadapi naiknya harga bahan baku dan plastik kemasan di pasaran. Kenaikan harga ini berdampak langsung pada proses produksi harian, di mana beliau harus tetap menjaga kualitas jajanan agar harganya tak melambung di mata pembeli.

"Susahnya itu di bahan baku, terus kemasan, apalagi sekarang apa-apa serba naik. Semua biaya sudah lumayan besar, jadi penjualannya agak sedikit susah."
— Bu Sundari

Meski begitu, dengan pengelolaan yang cermat, jajanan hasil olahan dapurnya tetap berhasil tersalurkan secara rutin ke berbagai warung kelontong hingga koperasi sekolah di wilayah Balikpapan.

Harapan

Bicara mengenai rencana ke depan, Bu Sundari mengaku belum memiliki target besar yang muluk-muluk. Terbatasnya waktu, modal, serta kondisi ekonomi yang tidak menentu membuatnya memilih untuk fokus menjalani apa yang ada di depan mata. Bagi beliau, harapan terbesarnya saat ini adalah menjaga agar roda usaha repack yang dilakukannya ini bisa terus berputar dan tetap bertahan di tengah berbagai keterbatasan.

Di balik kesederhanaan bungkus jajanan lima ribuan yang biasa kita temui di rak warung maupun koperasi sekolah, ada kerja keras dan keuletan seorang ibu rumah tangga di Balikpapan. Perjuangan Bu Sundari menjadi bukti nyata bagaimana sektor usaha mikro terus menggeliat, menjadi penopang ekonomi keluarga sekaligus penggerak rantai distribusi lokal.